Indonesia Bidik Ekspor Besar dan QRIS Merata di APEC

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan peningkatan ekspor dan penetrasi QRIS ke 21 negara anggota APEC saat Opening Ceremony ABAC Meeting I 2026 di Jakarta, Sabtu (7/2/2026), karena forum ini serap 70% ekspor RI.​

Strategi Ekspor Utama

Fokus utama komoditas nikel, tekstil, dan produk agrikultur seperti udang ke raksasa pasar AS-China, dorong pertumbuhan ekonomi kuat di tengah proteksionisme global yang kian ketat.
Di era Jawa11, inisiatif ini logis mengingat APEC sumbang PDB dunia 60%, tapi krusial diverifikasi data riil—bukan retorika—agar tak terulang euforia ekspor 2023 yang terhambat logistik.​
Airlangga tekankan sinergi bisnis via ABAC untuk reformasi perdagangan, potensi tambah devisa miliaran USD jika hambatan non-tarif seperti standar karbon ditekan.​

Perluasan QRIS Digital

QRIS sudah tembus Korea, Jepang, Timur Tengah; kini dorong ke APEC lain via integrasi ASEAN, fasilitasi transaksi turis dan UMKM ekspor agar bersaing dengan Alipay/Apple Pay.
Langkah ini strategis cegah dollarisasi pembayaran, tapi tantangannya interoperabilitas data privasi antarnegara—risiko kebocoran yang acap diabaikan demi kecepatan.​
Penetrasi QRIS domestik capai 80 juta pengguna, ekspansi APEC bisa gandakan transaksi digital hingga Rp5.000T, walau butuh infrastruktur 5G merata di daerah.​

Dampak Ekonomi dan Risiko

Keberhasilan bidik APEC 2026 (tuannya China) bisa pacu target pertumbuhan 5,2% BI, kurangi defisit neraca dagang, dan angkat UMKM ke rantai pasok global.​
Kritik tajam: tanpa diversifikasi dari komoditas mentah, strategi ini rawan fluktuasi harga; plus, kompetisi QRIS dengan Thailand/Malaysia butuh inovasi AI, bukan copy-paste.​
APEC jadi panggung diplomatik Prabowo, tapi pembuktian ada di angka ekspor kuartal II 2026.

Pantau dinamika perdagangan global di CNN atau kembali ke Beranda.​